Sutrah (penghalang/pembatas) dalam sholat

Pengertian Sutrah

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Hukum Sutrah
selengkapnya

Ketika “Meminang” menjadi Pilihan

A.    MAKNA DAN HUKUM MEMINANG

Al-Khitbah dengan dikasrah ‘kho”nya berarti pendahuluan “ikatan pernikahan” yang maknanya permintaan seorang laki-laki pada wanita untuk dinikahi. Dan hal ini pada umumnya ada pada laki-laki. Maka yang memulai disebut “khoothoban” (yang meminang) sedang yang lain disebut “makhthuuban” (yang dipinang).Meminang itu sunnah sebelum akad nikah, karena Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wa sallam meminang untuk dirinya dan untuk yang lain. Dan tujuan meminang yaitu : mengetahui pendapat yang dipinang, apakah ada setuju atau tidak. Demikian juga untuk mengetahui pendapat walinya.

Meminang itu akan mengungkap keadaan, sikap wanita itu dan keluarganya. Dimana kecocokan dua unsur ini dituntut sebelum akad nikah, dan Nabi shalallahu ‘alaihi wa sallam telah melarang menikahi seorang wanita kecuali dengan izin wanita tersebut, sebagaimana diriwayatkan Imam Bukhori dan Muslim dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu berkata: telah bersabda Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam :

“Tidak dinikahi seorang janda kecuali sampai dia minta dan tidak dinikahi seorang gadis sampai dia mengijinkan (sesuai kemauannya),Mereka bertanya “Ya Rasulullah, bagaimana ijinnya ? Beliau menjawab ‘Jika dia diam’.

selengkapnya

Arti Sebuah Cinta

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Selengkapnya

Asmaul Husna

No

Nama

Arti

1

ar-Rahmaan

Yang Maha Pemurah

2

ar-Rahiim

Yang Maha Pengasih

3

al-Malik

Maha Raja

4

al-Qudduus

Maha Suci

5

as-Salaam

Maha Sejahtera

6

al-Mu’min

Yang Maha Terpercaya

7

al-Muhaimin

Yang Maha Memelihara

8

al-‘Aziiz

Yang Maha Perkasa

9

al-Jabbaar

Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari

10

al-Mutakabbir

Yang Memiliki Kebesaran

11

al-Khaaliq

Yang Maha Pencipta

12

al-Baari’

Yang Mengadakan dari Tiada

13

al-Mushawwir

Yang Membuat Bentuk

14

al-Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

15

al-Qahhaar

Yang Maha Perkasa

16

al-Wahhaab

Yang Maha Pemberi

17

ar-Razzaq

Yang Maha Pemberi Rezki

18

al-Fattaah

Yang Maha Membuka (Hati)

19

al-‘Aliim

Yang Maha Mengetahui

20

al-Qaabidh

Yang Maha Pengendali

21

al-Baasith

Yang Maha Melapangkan

22

al-Khaafidh

Yang Merendahkan

23

ar-Raafi’

Yang Meninggikan

24

al-Mu’izz

Yang Maha Terhormat

25

al-Mudzdzill

Yang Maha Menghinakan

26

as-Samii’

Yang Maha Mendengar

27

al-Bashiir

Yang Maha Melihat

28

al-Hakam

Yang Memutuskan Hukum

29

al-‘Adl

Yang Maha Adil

30

al-Lathiif

Yang Maha Lembut

31

al-Khabiir

Yang Maha Mengetahui

32

al-Haliim

Yang Maha Penyantun

33

al-‘Azhiim

Yang Maha Agung

34

al-Ghafuur

Yang Maha Pengampun

35

asy-Syakuur

Yang Menerima Syukur

36

al-‘Aliyy

Yang Maha Tinggi

37

al-Kabiir

Yang Maha Besar

38

al-Hafiizh

Yang Maha Penjaga

39

al-Muqiit

Yang Maha Pemelihara

40

al-Hasiib

Yang Maha Pembuat Perhitungan

41

al-Jaliil

Yang Maha Luhur

42

al-Kariim

Yang Maha Mulia

43

ar-Raqiib

Yang Maha Mengawasi

44

al-Mujiib

Yang Maha Mengabulkan

45

al-Waasi’

Yang Maha Luas

46

al-Hakiim

Yang Maha Bijaksana

47

al-Waduud

Yang Maha Mengasihi

48

al-Majiid

Yang Maha Mulia

49

al-Baa’its

Yang Membangkitkan

50

asy-Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

51

al-Haqq

Yang Maha Benar

52

al-Wakiil

Yang Maha Pemelihara

53

al-Qawiyy

Yang Maha Kuat

54

al-Matiin

Yang Maha Kokoh

55

al-Waliyy

Yang Maha Melindungi

56

al-Hamiid

Yang Maha Terpuji

57

al-Muhshi

Yang Maha Menghitung

58

al-Mubdi’

Yang Maha Memulai

59

al-Mu’id

Yang Maha Mengembalikan

60

al-Muhyi

Yang Maha Menghidupkan

61

al-Mumiit

Yang Maha Mematikan

62

al-Hayy

Yang Maha Hidup

63

al-Qayyuum

Yang Maha Mandiri

64

al-Waajid

Yang Maha Menemukan

65

al-Maajid

Yang Maha Mulia

66

al-Waahid

Yang Maha Tunggal

67

al-Ahad

Yang Maha Esa

68

ash-Shamad

Yang Maha Dibutuhkan

69

al-Qaadir

Yang Maha Kuat

70

al-Muqtadir

Yang Maha Berkuasa

71

al-Muqqadim

Yang Maha Mendahulukan

72

al-Mu’akhkhir

Yang Maha Mengakhirkan

73

al-Awwal

Yang Maha Permulaan

74

al-Aakhir

Yang Maha Akhir

75

azh-Zhaahir

Yang Maha Nyata

76

al-Baathin

Yang Maha Gaib

77

al-Waalii

Yang Maha Memerintah

78

al-Muta’aalii

Yang Maha Tinggi

79

al-Barr

Yang Maha Dermawan

80

at-Tawwaab

Yang Maha Penerima Taubat

81

al-Muntaqim

Yang Maha Penyiksa

82

al-‘Afuww

Yang Maha Pemaaf

83

ar-Ra’uuf

Yang Maha Pengasih

84

Maalik al-Mulk

Yang Mempunyai Kerajaan

85

Zuljalaal wa al-‘Ikraam

Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan

86

al-Muqsith

Yang Maha Adil

87

al-Jaami’

Yang Maha Pengumpul

88

al-Ghaniyy

Yang Maha Kaya

89

al-Mughnii

Yang Maha Mencukupi

90

al-Maani’

Yang Maha Mencegah

91

adh-Dhaarr

Yang Maha Pemberi Derita

92

an-Naafi’

Yang Maha Pemberi Manfaat

93

an-Nuur

Yang Maha Bercahaya

94

al-Haadii

Yang Maha Pemberi Petunjuk

95

al-Badii’

Yang Maha Pencipta

96

al-Baaqii

Yang Maha Kekal

97

al-Waarits

Yang Maha Mewarisi

98

ar-Rasyiid

Yang Maha Pandai

99

ash-Shabuur

Yang Maha Sabar

“ANTARA DAKWAAN & KENYATAAN”

Buletin Al-Hujjah Vol: 08-IX/Rabi’ul Awwal-1429H/April-08

قُلْ إِنْ كُنْتُمْ تُحِبُّونَ اللَّهَ فَاتَّبِعُونِي يُحْبِبْكُمُ اللَّهُ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ

وَاللَّهُ غَفُورٌ رَّحِيمٌ

“Katakanlah: ‘Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku (Muhammad), niscaya Allah mencintaimu dan mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”

[QS. Ali ‘Imraan: 31]

Jika hendak diartikan secara harfiah, Ayat-Ayat Cinta berarti Tanda-Tanda Cinta. “Tanda-tanda cinta kepada Allah dan Rasul-Nya”, makna inilah yang hendak kami angkat sebagai titik sentral kajian Tafsir kita kali ini. Menilik fenomena belakangan ini, dimana kaum muslimin seolah kehilangan figur sejati untuk dicintai. Mereka berbondong-bondong mengidolakan tokoh fiktif novel ketimbang Rasulullah Shalallahu ‘alaihi wa salam, teladan sejati -yang riil (nyata)- bagi kaum muslimin dalam hal cinta dan ketulusan

Tafsir Ayat

selengkapnya

Cerita Dari Perang Yarmuk

“Wahai Hamba Alloh, bantulah agama Alloh, pasti Ia akan membantu kalian dan mengokohkan kaki kalian. Sesungguhnya janji Alloh adalah benar. Wahai kaum muslimin, bersabarlah kalian. Sesungguhnya kesabaran akan menyelamatkan kalian dari kekufuran dan membuat ridha Rabb kalian dan menjauhkan kalian dari celaan. Jangan sampai kalian meninggalkan tempat dan jangan memulai maju menyerbu mereka. Tetapi seranglah mereka dahulu dengan panah, dan berlindunglah kalian dengan perisai kalian. Perbanyak diam kecuali dzikir kepada Alloh dalam diri kalian, hingga aku mengintruksikan sesuatu kepada kalian, insya Alloh.”

selengkapnya

Wanita Ahli Surga Dan Ciri-Cirinya

Setiap insan tentunya mendambakan kenikmatan yang paling tinggi dan abadi. Kenikmatan itu adalah Surga. Di dalamnya terdapat bejana-bejana dari emas dan perak, istana yang megah dengan dihiasi beragam permata, dan berbagai macam kenikmatan lainnya yang tidak pernah terlihat oleh mata, terdengar oleh telinga, dan terbetik di hati.

Dalam Al Qur’an banyak sekali ayat-ayat yang menggambarkan kenikmatan-kenikmatan Surga. Diantaranya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman :

“(Apakah) perumpamaan (penghuni) Surga yang dijanjikan kepada orang-orang bertakwa yang di dalamnya ada sungai-sungai dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, sungai-sungai dari air susu yang tidak berubah rasanya, sungai-sungai dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi peminumnya, dan sungai-sungai dari madu yang disaring dan mereka memperoleh di dalamnya segala macam buah-buahan dan ampunan dari Rabb mereka sama dengan orang yang kekal dalam neraka dan diberi minuman dengan air yang mendidih sehingga memotong-motong ususnya?” (QS. Muhammad : 15)

selengkapnya