Ebook “Etika dalam memberi Nama”

Oleh

Abu Muhammad Abdurrahman Sarijan

Pentingnya Pemberian Nama

Nama  adalah  ciri  atau  tanda,  maksudnya  adalah  orang  yang  diberi  nama  dapat  mengenal dirinya atau dikenal oleh orang lain. Dalam Al-Qur’anul Kariim disebutkan;

“Hai Zakaria, sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak  yang  namanya  Yahya,  yang  sebelumnya Kami  belum  pernah menciptakan  orang  yang serupa dengan dia” (QS. Maryam: 7).

Dan hakikat pemberian nama kepada anak adalah agar  ia dikenal serta memuliakannya. Oleh sebab  itu  para  ulama  bersepakat  akan  wajibnya  memberi  nama  kapada  anak  laki-laki  dan perempuan1).  Oleh  sebab  itu  apabila  seseorang  tidak  diberi  nama,  maka  ia  akan  menjadi seorang yang majhul (=tidak dikenal) oleh masyarakat.

Bagi yang inginmengetahui lebih lanjut silahkan download disini

Iklan

Download Audio “Kumpulan Kajian-Kajian”

Karena jarang Posting lagi jadi sekarang ana kasi kumpulan kajian dan lain-lain yang telah ana upload sebelumnya. Bagi yang berminat silahkan download dan semoga bermanfaat, silahkan sebarkan tanpa syarat imbalan apa pun. Silahkan download disini

Kapankah Kejayaan Umat Kan Dicapai?

Dalam surat an-Nur ayat 55, Allah subhanahu wa ta’ala berfirman,

وَعَدَ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنكُمْ وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ لَيَسْتَخْلِفَنَّهُم فِي الْأَرْضِ كَمَا اسْتَخْلَفَ الَّذِينَ مِن قَبْلِهِمْ وَلَيُمَكِّنَنَّ لَهُمْ دِينَهُمُ الَّذِي ارْتَضَى لَهُمْ وَلَيُبَدِّلَنَّهُم مِّن بَعْدِ خَوْفِهِمْ أَمْناً يَعْبُدُونَنِي لَا يُشْرِكُونَ بِي شَيْئاً

“Dan Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengamalkan amal shalih, bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhaiNya untuk mereka, dan Dia benar-benar akan menukar (keadaan) mereka, sesudah berada dalam ketakutan menjadi aman sentosa. Mereka tetap beribadah kepadaku dengan tidak mempersekutukan sesuatu apapun dengan Aku.”

Ayat ini merupakan jawaban tuntas atas pertanyaan banyak orang yang sudah merasa pening melihat keterpurukan dan kemunduran kaum muslimin di zaman ini. Ayat ini akan menutup rapat-rapat pintu perbedaan pendapat yang amat sengit antara umat dalam mencari solusi untuk menegakkan syariat Islam di tanah air. Ada yang berusaha mendirikan negara dalam negara, sambil berupaya keras meruntuhkan pemerintah yang sah. Ada yang menggunakan cara-cara teror dan mengacaukan keamanan negara muslim. Ada yang menyibukkan diri dengan fatamorgana politik. Ada pula yang berusaha untuk menenggelamkan umat dalam amalan-amalan yang sunah hukumnya sambil terus-menerus mengesampingkan amalan-amalan yang pokok (baca: tauhid).
selengkapnya

Asas Kebangkitan Dunia Islam

Oleh
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani

Pertanyaan.
Syaikh Muhammad Nashiruddin Al-Albani ditanya : “Asas-asas apakah yang dapat menyebabkan Dunia Islam bangkit kembali .?

Jawaban.
Yang saya yakini ialah apa yang terdapat dalam hadits shahih. Ia merupakan jawaban tegas terhadap pertanyaan semacam itu, yang mungkin di lontarkan pada masa sekarang ini. Hadits itu adalah sabda Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam.
selengkapnya

Sutrah (penghalang/pembatas) dalam sholat

Pengertian Sutrah

Sutrah adalah sesuatu yang dijadikan sebagai penghalang, apa pun bentuk/jenisnya. Sutrah orang yang shalat adalah apa yang ditancapkan dan dipancangkan di hadapannya berupa tongkat atau yang lainnya ketika hendak mendirikan shalat atau sesuatu yang sudah tegak dengan sendirinya yang sudah ada di hadapannya, seperti dinding atau tiang, guna mencegah orang yang hendak berlalu-lalang di depannya saat ia sedang shalat. Sutrah harus ada di hadapan orang yang sedang shalat karena dengan shalatnya berarti ia sedang bermunajat kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sehingga, bila ada sesuatu yang lewat di hadapannya akan memutus munajat tersebut serta mengganggu hubungan ia dengan Allah Subhanahu wa Ta’ala dalam shalatnya. Oleh sebab itu, siapa yang sengaja lewat di depan orang shalat, ia telah melakukan dosa yang besar. (Al-Mausu’atul Fiqhiyah, 24/178, Al-Fiqhul Islami wa Adillatuh, 2/939, Taudhihul Ahkam, 2/58)

Hukum Sutrah
selengkapnya

Arti Sebuah Cinta

Penulis: Al-Ustadz Abu Usamah Abdurrahman bin Rawiyah An-Nawawi

Cinta bisa jadi merupakan kata yang paling banyak dibicarakan manusia. Setiap orang memiliki rasa cinta yang bisa diaplikasikan pada banyak hal. Wanita, harta, anak, kendaraan, rumah dan berbagai kenikmatan dunia lainnya merupakan sasaran utama cinta dari kebanyakan manusia. Cinta yang paling tinggi dan mulia adalah cinta seorang hamba kepada Rabb-nya.

Kita sering mendengar kata yang terdiri dari lima huruf: CINTA. Setiap orang bahkan telah merasakannya, namun sulit untuk mendefinisikannya. Terlebih untuk mengetahui hakikatnya. Berdasarkan hal itu, seseorang dengan gampang bisa keluar dari jeratan hukum syariat ketika bendera cinta diangkat. Seorang pezina dengan gampang tanpa diiringi rasa malu mengatakan, “Kami sama-sama cinta, suka sama suka.” Karena alasan cinta, seorang bapak membiarkan anak-anaknya bergelimang dalam dosa. Dengan alasan cinta pula, seorang suami melepas istrinya hidup bebas tanpa ada ikatan dan tanpa rasa cemburu sedikitpun.
Selengkapnya

Asmaul Husna

No

Nama

Arti

1

ar-Rahmaan

Yang Maha Pemurah

2

ar-Rahiim

Yang Maha Pengasih

3

al-Malik

Maha Raja

4

al-Qudduus

Maha Suci

5

as-Salaam

Maha Sejahtera

6

al-Mu’min

Yang Maha Terpercaya

7

al-Muhaimin

Yang Maha Memelihara

8

al-‘Aziiz

Yang Maha Perkasa

9

al-Jabbaar

Yang Kehendaknya Tidak Dapat Diingkari

10

al-Mutakabbir

Yang Memiliki Kebesaran

11

al-Khaaliq

Yang Maha Pencipta

12

al-Baari’

Yang Mengadakan dari Tiada

13

al-Mushawwir

Yang Membuat Bentuk

14

al-Ghaffaar

Yang Maha Pengampun

15

al-Qahhaar

Yang Maha Perkasa

16

al-Wahhaab

Yang Maha Pemberi

17

ar-Razzaq

Yang Maha Pemberi Rezki

18

al-Fattaah

Yang Maha Membuka (Hati)

19

al-‘Aliim

Yang Maha Mengetahui

20

al-Qaabidh

Yang Maha Pengendali

21

al-Baasith

Yang Maha Melapangkan

22

al-Khaafidh

Yang Merendahkan

23

ar-Raafi’

Yang Meninggikan

24

al-Mu’izz

Yang Maha Terhormat

25

al-Mudzdzill

Yang Maha Menghinakan

26

as-Samii’

Yang Maha Mendengar

27

al-Bashiir

Yang Maha Melihat

28

al-Hakam

Yang Memutuskan Hukum

29

al-‘Adl

Yang Maha Adil

30

al-Lathiif

Yang Maha Lembut

31

al-Khabiir

Yang Maha Mengetahui

32

al-Haliim

Yang Maha Penyantun

33

al-‘Azhiim

Yang Maha Agung

34

al-Ghafuur

Yang Maha Pengampun

35

asy-Syakuur

Yang Menerima Syukur

36

al-‘Aliyy

Yang Maha Tinggi

37

al-Kabiir

Yang Maha Besar

38

al-Hafiizh

Yang Maha Penjaga

39

al-Muqiit

Yang Maha Pemelihara

40

al-Hasiib

Yang Maha Pembuat Perhitungan

41

al-Jaliil

Yang Maha Luhur

42

al-Kariim

Yang Maha Mulia

43

ar-Raqiib

Yang Maha Mengawasi

44

al-Mujiib

Yang Maha Mengabulkan

45

al-Waasi’

Yang Maha Luas

46

al-Hakiim

Yang Maha Bijaksana

47

al-Waduud

Yang Maha Mengasihi

48

al-Majiid

Yang Maha Mulia

49

al-Baa’its

Yang Membangkitkan

50

asy-Syahiid

Yang Maha Menyaksikan

51

al-Haqq

Yang Maha Benar

52

al-Wakiil

Yang Maha Pemelihara

53

al-Qawiyy

Yang Maha Kuat

54

al-Matiin

Yang Maha Kokoh

55

al-Waliyy

Yang Maha Melindungi

56

al-Hamiid

Yang Maha Terpuji

57

al-Muhshi

Yang Maha Menghitung

58

al-Mubdi’

Yang Maha Memulai

59

al-Mu’id

Yang Maha Mengembalikan

60

al-Muhyi

Yang Maha Menghidupkan

61

al-Mumiit

Yang Maha Mematikan

62

al-Hayy

Yang Maha Hidup

63

al-Qayyuum

Yang Maha Mandiri

64

al-Waajid

Yang Maha Menemukan

65

al-Maajid

Yang Maha Mulia

66

al-Waahid

Yang Maha Tunggal

67

al-Ahad

Yang Maha Esa

68

ash-Shamad

Yang Maha Dibutuhkan

69

al-Qaadir

Yang Maha Kuat

70

al-Muqtadir

Yang Maha Berkuasa

71

al-Muqqadim

Yang Maha Mendahulukan

72

al-Mu’akhkhir

Yang Maha Mengakhirkan

73

al-Awwal

Yang Maha Permulaan

74

al-Aakhir

Yang Maha Akhir

75

azh-Zhaahir

Yang Maha Nyata

76

al-Baathin

Yang Maha Gaib

77

al-Waalii

Yang Maha Memerintah

78

al-Muta’aalii

Yang Maha Tinggi

79

al-Barr

Yang Maha Dermawan

80

at-Tawwaab

Yang Maha Penerima Taubat

81

al-Muntaqim

Yang Maha Penyiksa

82

al-‘Afuww

Yang Maha Pemaaf

83

ar-Ra’uuf

Yang Maha Pengasih

84

Maalik al-Mulk

Yang Mempunyai Kerajaan

85

Zuljalaal wa al-‘Ikraam

Yang Maha Memiliki Kebesaran serta Kemuliaan

86

al-Muqsith

Yang Maha Adil

87

al-Jaami’

Yang Maha Pengumpul

88

al-Ghaniyy

Yang Maha Kaya

89

al-Mughnii

Yang Maha Mencukupi

90

al-Maani’

Yang Maha Mencegah

91

adh-Dhaarr

Yang Maha Pemberi Derita

92

an-Naafi’

Yang Maha Pemberi Manfaat

93

an-Nuur

Yang Maha Bercahaya

94

al-Haadii

Yang Maha Pemberi Petunjuk

95

al-Badii’

Yang Maha Pencipta

96

al-Baaqii

Yang Maha Kekal

97

al-Waarits

Yang Maha Mewarisi

98

ar-Rasyiid

Yang Maha Pandai

99

ash-Shabuur

Yang Maha Sabar