Ayah… Ibu… Shalatlah

Oleh : IBRAHIM BIN MUBARAK

Ya,,, Rabbi

Lapangkan Dada Keduaya Untuk Shalat….

Ini adalah seorang anak yang diilhami Allah Subhanu wata’ala untuk teguh, diberi taufiq untuk berada diatas kebenaran dan dilapangkan dadanya dengan keimanan setelah dia mendengar untaian-untaian kalimat jujur yang keluar dari guru dan teman-temannya tentang shalat, keagungan dalam syariat.

Maka dia pun mendatangi shalat, menjaga kelestariannya, sementara dia diuji dengan kedua orang tuanya yang tidak menjaga shalatnya.

Mulailah sang ibu mengkhawatirkan kelaurnya sang anak dari rumah untuk shalat, terutama untuk shalat subuh. Bahkan sang ibu berusaha agar membuat sang anak mengecualikan subuh dari shalat-shalat lain (dengan tidak mendatanginya dan keluar rumah pada pagi hari). Akan tetapi shalat telah tertanam salm lubuk hati dan rohnya. Sang ayam pun meringankan larangan sang ibu dengan berkata kepadanya : “Jangan engkau halangi keinginannya, itu adalah satu masa dari masa kanak-kanak”.

Haripun berjalan, sementaa apa yang diharapkan oleh sang ayah tidaklah terwujud. Di suatu pagi di hari Jum’at, sang ibu tidak mendengar langkah masuk dan datangnya sang anak dari shalat subuh. Dengan segera sang ibu berdiri dan pergi ke kamar sang anak. Saat didepan pintu dia mendengar suara yang menggema yang membangkitakan perasaan. Sang ibupun membuka pintu, ternyata sia melihat sebuah pemandangan yang menajubkan. Tahukah anda, pemandangan apa yang dilihat oleh sang ibu.?

Sang anak sedang mengangkat tangannya kelangit dan dengan lisannya yang penuh ketundukan dia berdoa dengan mendesak seraya membaca dengan berulang-ulang:

“Ya Rabbi, berilah hidayah hati ayah san ibuku untuk shalaat, ya Rabbi berilah hidayah hati ayah dan ibuku untuk shalat”.

Sang ibupun berdiri, perasaan aneh telah mengusai dirinya saat dia mendengar do’a tersebut. “ya Allah, berilah hidayah ayah dan ibuku untuk shalat”. Dia pun pergi kepada sang ayah untuk mengabarinya seraya berkata “berdirilah, dan dengarkan apa yang diperbuat oleh anak kita”. Sang ayah menyangka bahwa sang anak telah membakar dirinya sendiri atau ingin mencabut nyawanya sendiri.

Sang ayah dengan rasa kantuknya hanya demi menuruti sang istrinya. Tatkala dia sudah dekat dari kamar sang anak, dia mendengar desahan-desahan yang bercampur dengan kalimat-kalimat yang menyentuh perasaan. Dia membuka pintu kamar, maka dia melihat sang anak dalam keadaann shalat. Bukan hanya ini, bahkan dia tengah berdo’a kepada Allah Subhanu wata’ala serta mengulang-ulang do’a:

“Ya Allah, lapangkanlah dada ayah dan ibuku untuk shalat…”.

Tatkala sang ibu melihat pemandangan yang menyentuh ini,mengalirlah air matanya, tergeraklah keinginannya, hilanglah darinya kegelepan, lalu dia pun memeluk dan menimang sang anak yang masih kecil itu.

Saat itu pula keimanan sang ayah tergerak dan diikuti dengan cucuran air mata, dan tangisan. Maka terkumpullah kepadanya cahaya hidayah, dan Allah Subhanahu wata’ala telah melapang dadanya dengan kalimat-kalimat dari si kecil tersebut. Tidaklah sang ayah mampu menguasai jiwanya saat mendengar do’a dari buah hatinya yang masih kecil tersebut kecuali dia segera bangkit lalu menimang dan memeluk si kecil dengan erat.

Saat itulah, saat kembali kepada Allah, sang ayah berkata kepada si kecil:“Allah subhanu wata’ala telah mengabulkan do’a mu wahai buah hatiku.”

Sejak saat itu, sang ayah tidak pernah lagi meniggalkan shalat berjama’ah, sementara sang ibu menjadi sahabat mushallanya. Maka Maha Suci Allah yang telah memberikan hidayah kepada mereka, serta menganugrahi mereka kebaikan. Allah Subhanahu Wata’ala telah berfirman Artiya :

“Barangsiapa yang Allah menghendaki akan memberi kepadanya petunjuk, niscaya dia melapangkan dadanya untuk (memeluk agama) islam. Dan barngsiapa yang dihendaki Allah kesesatannya, niscaya Allah menjadikan dadanya sesak lagi sempit…”(QS. Al-An’am:125)

Sesungguhnya, itulah do’a… Panah malam hari yang mampu mengetuk pintu-pintu langit. Maka tatkala siang hari datang dengan cahayanya, menjadi nyatalah pengaruh-pengaruhnya, serta menjadi tampaklah buahnya. Sesungguhnya do’a itu tewlah mengetuk pintu langit. Sebuah batu tidak mungkin terpecah dengan sekali pukulan, maka haruslah diketuk berulang kali.

Selamat bagimu wahai anak kecil, dengan keinginan kuatmu yang menyampaikanmu kepada hasil yang gemilang. Selamat bagimu wahai sang guru dengan pahala yang besar. Selamat bagi anda wahai para pembaca budiman yang telah membaca kisah ini.

Allah telah memelihara kedua tangan kecil yang memegang semangat dakwah kepada Allah Subhanahu Wata’ala. Dua buah tangan yang didalamnya bercampur kekanak-kanakkan, dan kedewasaan, kecintaan dan kemauan. Maka di manakah kemauan si kecil tersebut.? Bagaiman jerih payah kita terhadap keluarga dan kerabat kita.?

Mudah-mudahan Allah Subhanahu wata’ala memberi keselamtan dan afiah kepada kita semua.

note :

Kisah diatas hampir sama dengan apa yang aku alami sebelumnya dalam hidup yang sebentar ini. Setelah membaca ini tak henti-hentinya hati menangis dan terharu terhadap apa yang dialami si kecil bersama sang ibu dan sang ayah tercinta.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: